Arsip Blog

Jumat, 02 Januari 2015

Pacar Ibuku

Cerita Dewasa Aku Bercinta Dengan Mantan Pacar Ibuku


Cerita Dewasa Aku Bercinta Dengan Mantan Pacar Ibuku – Langsung Saja Kita Simak Cerita Dewasa Ku kali Ini. Tanpa sengaja malam itu aku mendengar pertengkaran Mamaku dan Papa tiriku tentang aborsi yang dilakukan Mama sebelum menikah dengannya. Rupanya Papa menemukan adanya hasil USG kandungan mama yang entah kenapa masih Mama simpan saja sehingga akhirnya ketahuan oleh Papa. Kalau mendengar tahun kejadiannya yang dibaca oleh Papa dari hasil USG itu adalah sekitar tahun 2000. Hal itu berarti terjadi pada waktu Mama baru setahunan mejadi janda dan aku masih duduk di kelas 6 SD, tentu saja belum mengenal Papa tiriku yang sekarang.

Walaupun Mama akhirnya bisa meyakinkan Papa bawah peristiwanya itu terjadi jauh sebelum mereka berkenalan, tetapi aku menjadi penasaran siapa laki-laki yang telah menghamili Mamaku dan mengapa Mama menyimpan hasil USGnya sampai sekarang. Kenapa Mama sama sekali tidak menceritakan mengenai laki-laki ini padaku, padahal biasanya Mama selalu cerita mengenai teman-teman lelakinya padaku karena bagi Mama siapapun nanti menjadi suaminya harus bisa menjadi Papa tiri yang aku sukai. Walaupun Mama tidak menceritakan sejauh apa hubungannya dengan tiap teman lelakinya, tetapi aku yakin bukan mereka yang menghamili Mamaku.

Apakah Mamaku pernah jadi selingkuhan laki-laki lain yang sudah berkeluarga ?

Pertanyaan itulah yang kemudian muncul di kepalaku karena hanya itulah yang bisa menjelaskan kenapa Mama tidak bisa menceritakan kepadaku tentang laki-laki tersebut.

Namaku Karin, umurku saat itu adalah 23 tahun dan sedang menyelesaikan pendidikanku di fakultas kedokteran universitas negeri ternama di Jakarta. Sampai SMA aku menyelesaikannya di Bandung dan baru pindah ke Jakarta setelah Mamaku menikah lagi dengan seorang dokter asal Jakarta yang sekarang menjadi Papa tiriku. Mamaku sendiri seorang dokter spesialis mata asal Bandung sedangkan Ayah kandungku juga seorang dokter Ahli Penyakit Dalam dari Bandung juga.

Mamaku bukan tipe orang yang punya pergaulan bebas, dia hanya punya sedikit teman dekat yang umumnya berasal dari lingkungan sekolahnya sejak SD sampai di bangku kuliah. Tetapi memang teman-teman dekatnya yang paling banyak dan paling sering bergaul dengan Mama adalah teman-teman SMAnya. Sepengetahuanku semua teman SMA Mama itu sudah berkeluarga karena sering kali dalam beberapa acara aku dibawa Mama untuk bertemu keluarga mereka. Dari sini aku mulai mengecilkan pilihanku pada tahun di mana kejadian yang dipermasalahkan oleh Papa tiriku itu, terutama dengan siapa saja Mamaku suka pergi.

Akhirnya kecurigaanku mengerucut hanya pada satu orang saja, yaitu Oom Yanto, seorang teman Mama yang memang sudah akrab bukan hanya dengan Mama tapi juga dengan keluarga besar Mamaku sejak mereka sama-sama di bangku SMA. Oom Yanto menikahi teman SMAnya yang juga merupakan teman dekat Mama, bahkan anak-anak merekapun cukup aku kenal. Salah satu alasanku mencurigai Oom Yanto karena aku ingat bahwa Oom Yanto lah yang paling sering menjemput dan mengantar Mama kalau ada kegiatan dengan teman-temannya Mama. Bahkan kadang-kadang Mama pamit keluar kota untuk urusan dinas beberapa hari tapi yang menjemput dan mengantar pulangnya adalah Oom Yanto.

Oom Yanto memang sosok laki-laki idaman hampir semua wanita dewasa karena selain sukses sebagai pengusaha, juga mempunyai kepribadian yang sangat menarik dan tentu saja wajahnya yang lumayan dengan badan yang tinggi besar. Tangan dan kaki Oom Yanto dipenuhi bulu dan muka yang ditumbuhi kumis dan jenggot hingga terlihat seksi bagi sebagian wanita. Dia merupakan pria yang ramah, mudah tertawa dan selalu bisa membawa suasana menjadi lebih cair serta menyenangkan.

Aku makin penasaran ingin memastikan apakah memang Mamaku dihamili oleh Oom Yanto ini atau laki-laki lain. Hal ini menjadi sangat penting bagiku karena akan mempengaruhi persepsi tentang Mamaku selama ini. Tapi bagaimana caranya ? Pikiran ini lama-lama menjadi obsesi yang sangat mengganggu konsentrasiku sehingga beberapa kuliahku nilainya menjadi tidak memuaskan. Aku tidak berani bertanya langsung kepada Mamaku karena kalau dia berbohong dengan jawabannya maka akan merusak hubungan kami selamanya.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Oom Yanto lewat akun fesbuknya dulu sebagai komunikasi awalku. Tidak terlalu sulit mencarinya karena akun Oom Yanto memang tercantum dalam akun anak-anaknya yang sudah menjadi teman fesbukku. Dengan hati-hati aku mulai menyusun langkah-langkah untuk melakukan penyelidikanku, aku tidak mau salah langkah karena akan merusak suatu hubungan silahturahmi yang sudah sangat lama terjalin antara dua keluarga besar.

Pertama kali aku coba meng-add Oom Yanto sebagai teman, kalau ini berhasil maka akan memudahkan langkah selanjutnya. Tetapi kalau tidak berhasil maka aku harus mencari jalan yang lebih sulit. Rupanya Oom Yanto mengenaliku sehingga dia langsung meng-approve requestku. Sebagai pembukaan aku mulai mengiriminya message berbasa-basi yang ternyata juga mendapat tanggapan positif walaupun kadang-kadang jawabannya agak lama karena kesibukkannya.
Setelah komunikasi mulai terbuka aku mulai maju ke langkah kedua yaitu mencoba mencari tahu bagaimana hubungan pertemanan Oom Yanto dan Mamaku pada saat 10 tahunan yang lalu dan sekarang. Dari jawaban-jawaban Oom Yanto dugaanku ternyata benar bahwa dulu mereka punya hubungan “istimewa” walaupun tidak begitu jelas seberapa istimewanya.
Sebagai langkah ketiga, aku berusaha untuk ketemu langsung dengan Oom Yanto dengan menyampaikan bahwa aku banyak pertanyaan mengenai masa lalu Mamaku yang aku anggap Oom Yanto cukup banyak tahu. Aku katakan bahwa hal itu penting karena sekarang sedang ada masalah antara Mamaku dan Papa tiriku tentang masa lalu Mama. Tentu saja aku tegaskan bahwa aku hanya bisa membicarakannya saat berhadapan langsung dengan Oom Yanto.
Aku cukup kaget saat Oom Yanto tanpa keraguan sedikitpun bersedia menemui aku, bahkan saat kami mulai berkomunikasi di telepon untuk mengatur waktunya, nada suara Oom Yanto sama ramahnya dengan nada suara yang dulu sudah aku kenal. Oom Yanto juga menanyakan apakah pertemuan kami akan dilakukan di-public area atau di-private area. Pertanyaan ini sempat membuatku pusing karena kalau di private area aku masih kagok berduaan dengan Oom Yanto, tapi kalau benar ternyata Oom Yanto yang menghamili Mamaku maka sangat tidak bijak membicarakannya di public area.
 

Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu di private area saja karena bagaimanapun akan menjadi lebih mudah bagiku untuk mengikuti perkembangan selanjutnya. Tempat yang akan dipakai untuk pertemuan kami adalah sebuah hotel berbintang di bilangan Mega Kuningan yang biasa Oom Yanto pakai menginap kalau sedang ada di Jakarta. Sedang waktunya aku memilih saat sedang jaga di rumah sakit, tetapi sebelumnya jadwalnya aku tukar dengan temanku sehingga orang tuaku tidak akan curiga kalau aku pulang larut malam karena kalau sedang berjaga kadang-kadang aku tidur di rumah sakit.

“Oom ini Karin, sekarang sudah sampai di loby hotel” Kataku saat menelon ke telepon genggamnya saat aku sudah sampai ke Hotelnya. Waktu saat itu menunjukkan pukul 14:05, sesuai dengan waktu yang telah kami sepakati karena aku adah kuliah pagi di RSCM.

“Okay … saya akan jemput kamu ke bawah karena untuk bisa naik lift ke kamar Oom harus memakai kunci kamarnya” Jawab Oom Yanto di teleponnya.

Dengan berdebar-debar aku berdiri di depan lift, memandangi pergerakan setiap lift dan orang yang keluar darinya. Tak lama kemudian Oom Yanto keluar, pempilannya sekarang sudah agak gemuk dengan rambut yang lebih tipis tetapi daya tarik lainnya masih sama. Terlihat dia sedikit celingak celinguk mencariku, karena memang kami hampir tidak pernah bertemu lagi selama 8 tahun. Aku segera menghampiri dan menyapanya terlebih dahulu yang disambutnya dengan hangat.

Setelah dia mencium pipi kiri dan kananku dia langsung mengajakku naik ke kamarku. Tiba-tiba aku dilanda perasaan aneh yaitu perasaan yang hampir sama seperti saat aku diajak oleh pacarku ke rumahnya yang sedang kosong untuk petting. Aku memang bilang ke pacarku bahwa aku hanya mau bercumbu dan petting di tempat-tempat yang bersuasana nyaman seperti rumah atau kamar hotel.
Saat itu kami melakukan petting dengan bertelanjang bulat seperti yang aku janjikan kepadanya kalau dia bisa punya kesempatannya. Pacarku sempat memaksa ingin melakukan penetrasi, tapi aku menolaknya bukan karena aku tidak mau tapi aku mengingatkannya bahwa janjiku untuk kali ini adalah bersedia melakukan petting sambil bertelanjang bulat dan tidak lebih dari itu. Kalau dia ingin bersetubuh denganku maka harus cari waktu lagi dengan syarat yang aku tentukan kemudian. Aku selalu diajarkan Mama untuk selalu bisa mengendalikan laki-laki atau mereka akan mengendalikan kita. Tetapi ternyata ceritanya jadi lain kalau berhadapan dengan Oom Yanto.

Oom Yanto menyewa kamar suite, sehingga kami bisa mengobrol sambil duduk sofa dan kursi yang ada bukan di duduk ranjang seperti yang aku khawatirkan sebelumnya. Hal ini tentunya melegakan aku tapi tanpa aku sadari membuatku menjadi lebih lengah karena hal itu sebenarnya tidak menghilangkan kenyataan bahwa aku tetap berada di dalam kamar tidurnya Oom Yanto. Entah kenapa kami berdua sama-sama duduk di sofa walapun sebenarnya masih ada satu kursi lagi. Di sana juga sudah tersedia minuman dan makanan ringan untuk menemani obrolan kami.

Awalnya aku bercerita dengan lancar mengenai pertengkaran Mamaku dan Papa tiriku dan bagaimana aku menjadi terganggu karenanya. Oom Yanto juga mendengarkan ceritaku dengan seksama tanpa perubahan ekspresi sedikitpun. Tetapi kelancaran ceritaku tiba-tiba menjadi tersendat saat aku harus mengajukan pertanyaan inti dari tujuanku bertemu dia. Wajahku berubah menjadi sedikit kemerahan karena menahan campuran perasaan malu dan penasaran.

“Begini Oom … Karin ingin Tanya kepada Oom” Aku coba membukanya dengan kalimat netral.

“Sok atuh apa yang akan kamu tanyakan “ Jawab Oom Yanto.

“Ta…tapi Oom jangan marah Ya ?” Kataku mulai gugup.

“Marah kenapa dan ke siapa ?” Balas Oom Yanto.

“Marah ke Karin atau malah marah ke Mama, Karin sware bahwa Mama ga tau kedatangan Karin ke sini” Lanjutku sambil mengangkat dua jariku seperti janji pramuka.

“Oom janji tidak akan marah tanpa alasan yang benar-benar jelas” Jawabnya dengan ekspresi keheranan.

“Begini Oom …eeee…apakah …eh …begini…apakah O..Om yang menghamili Mama ?” Akhirnya pertanyaan itu terlepas juga.

Oom Yanto merenung sebentar kemudian matanya melihat kembali padaku dengan tetap tidak ada perubahan emosi yang drastis pada wajahnya.

“Apakah jawaban Oom sangat penting buat Karin ?” Dia malah sekarang balik bertanya

“Be..betul Oom, Karin sangat terganggu oleh pikiran itu sejak saat itu” jawabku sambil menunduk

“Baiklah kalau memang Karin ingin tahu…. Oom mengakui bahwa memang sayalah yang menghamili Mamanya Karin tahun 2000 itu” Jawab Oom Yanto dengan suara lembut tapi tegas.

“Oom juga yang membantu Mama untuk melakukan aborsi karena Mamanya Karin saat itu belum merasa siap hamil tanpa ada suami, walaupun saat itu Oom juga tidak akan menentang kalau Mama kamu ingin mempertahankannya” Lanjutnya dengan ketenangan yang masih tetap sama.

Jawaban itu memang sudah aku duga dan sesuai dengan harapanku, tapi tetap saja perasaanku seperti dicampur aduk antara marah, sedih dan gembira. Marah karena ternyata Mama berselingkuh dengan teman yang merupakan suami dari temannya sendiri. Sedih karena ternyata Mama harus melakukan aborsi yang tentunya merupakan pilihan yang sangat berat baginya saat itu. Gembira karena selingkuhan Mama merupakan laki-laki yang aku anggap pantas menerima cinta Mama yang saat itu memang sedang sangat labil akibat perceraian dan juga ditinggal oleh Papanya Mama atau Kakekku. Tidak terbayang olehku nasib Mama kalau terjatuh ke tangan laki-laki yang lebih tidak bertanggung jawab.

Akhirnya aku hanya bisa menangis tersedu-sedu setelah medengar pengakuan langsung dari Oom Yanto yang keluar begitu saja tanpa harus aku paksa sama sekali. Oom Yanto kemudian memelukku sambil beberapa kali memberikan kecupan lembut pada kepalaku yang membuatku merasa lebih tenang sehingga akhirnya aku balas memeluknya untuk bisa menangis di dadanya yang bidang. Dengan lembut kepalaku di belai-belainya sambil membisikkan kata-kata menghibur di telingaku.

Entah berapa lama aku menangis di pelukan Oom Yanto, tapi sesudahnya badanku benar-benar menjadi lemas tidak bertenaga sehingga hampir jatuh terkulai di sofa. Oom Yanto lalu berinisiatif membopongku ke ranjangnya tanpa bisa aku tolak dan membaringkanku di atasnya sambil melepas sneakers-ku . Kancing atas bajuku juga dia longgarkan untuk memudahkan aku bernafas karena hidungku mulai tersumbat ingus akibat menangis terlalu lama. Oom Yanto sendiri kemudian berbaring di sisiku untuk membelai kepalaku sambil sekali-sekali mengecup pipi, hidung dan keningku.
Setelah aku lebih tenang, Oom Yanto bertanya apakah aku juga ingin tahu alasan dan detail kejadian dari awal sampai akhir perselingkuhan Mamaku dengan dia. Aku jawab bahwa aku sangat ingin tahu dan berharap Oom Yanto tidak menghilangkan detailnya supaya aku bisa mengerti alasan Mamaku.
BOKEP OLINE

Oom Yanto mulai bercerita bahwa hubungan mereka terjalin lagi setelah acara reuni SMA. Hubungan yang dimaksud adalah curhat-curhatan karena waktu masih sama-sama di SMA sampai kuliah Oom Yanto dan Mamaku adalah teman yang sangat dekat walaupun tidak sampai pacaran. Pada saat terjalin hubungan lagi setelah reuni sama sekali tidak terpikir untuk adanya hubungan yang lebih jauh dari itu. Oom Yanto bahkan turut mensupport Mama dalam setiap kencannya dengan pria-pria yang dijodohkan dengannya, malah dia pernah juga turut menjodohkan temannya sendiri dengan Mama.
 

Entah bagaimana pada suatu kesempatan akhirnya Oom Yanto dan Mama melakukan hubungan badan tanpa direncanakan terlebih dahulu. Walaupun tidak ada komitmen, hanya didasari oleh hubungan persahabatan yang sudah lama terjalin maka mereka menjadi tanpa beban untuk terus berhubungan badan setiap kali saling memerlukannya sampai akhirnya Mama hamil. Aku juga melihat dalam kehamilan ini Mama punya andil karena memang dia yang meminta Oom Yanto untuk tidak menggunakan pengaman dengan alasan setelah melahirkanku tanpa alat pengaman pun dia tidak pernah hamil lagi oleh Papa kandungku sebelum kemudian bercerai. Tapi saat itu Oom Yanto belum menceritakan bahwa Mamaku juga pernah berselingkuh dengan dosen pembimbingnya yang dimulai saat dia masih menikahi Papa kandungku. Cerita ini aku dapat setelah hubunganku dengan Oom Yanto berlanjut.

Aku kemudian meminta Oom Yanto untuk menceritakan detail dari beberapa kejadian yang dianggap penting dalam berhubungan dengan Mama karena berharap dari detail itu apakah Mamaku adalah Mama yang aku kenal selama ini. Cerita pertama tentunya adalah tentang bagaimana peristiwa persetubuhan pertama yang berlangsung di rumah peristirahatan keluarga Mama di Lembang bisa terjadi tanpa direncanakan. Seperti yang aku duga dari sifatnya Mamaku, walaupun Oom Yanto yang pertama kali mencium bibir Mama, tapi Mamalah yang pertama kali mengambil inisiatif meminta berhubungan badan.

Cerita Oom Yanto yang sangat detail mengenai tahapan persetubuhan yang mereka lakukan pertama kalinya itu membuatku sampai merasa sedang mendengarkan cerita roman dewasa yang sangat realistis. Aku juga tidak menyangka mereka bisa tenang tetap bersetubuh walaupun sempat kepergok oleh Mamang penjaga rumah yang datang karena kaget oleh lolongan nikmat orgasme Mamaku. Oom Yanto juga bisa membuat Mama orgasme berkali-kali dengan melakukan beberapa variasi posisi serta rangsangan-rangsangan tambahan seperti memasukkan jari ke dubur Mama saat melakukan doggy style.

Nafasku mulai memburu karena membayangkan hubungan badan yang dilakukan Mamaku dengan saat petting yang aku lakukan dengan pacarku. Aku mulai merasakan kedua putting susuku mengeras dan celana dalamku jadi lembab dan kulit mukaku mulai merona merah menahan berahiku sendiri. Dengan gelisah aku coba gesek-gesekan kedua pahaku satu sama lain untuk mengurangi kegelisahanku itu.

Melihat perubahan padaku Oom Yanto lalu mengecup bibirku yang tanpa aku sadari jadi setengah terbuka sambil memegang pipiku. Setelah yakin tidak ada penolakan dariku, tanpa ragu-ragu Oom Yanto memangut bibirku dengan hangat yang aku balas tidak kalah mesranya sehingga akhirnya kami mulai berciuman. Oom Yanto ternyata sangat pandai mencium, ciumannya bukan saja enak dinikmati tapi juga memancing berahiku untuk ingin bercumbu.

Sambil berciuman tangan Oom Yanto sudah masuk kedalam rokku untuk mengelus paha dan pangkal pahaku tanpa perlawananku sama sekali bahkan aku mulai menikmatinya. Tidak berapa lama kemudian aku malah membantunya melepas rok dan celana dalamku dan memperbaiki posisi berbaringku agar bisa merenggangkan kedua pahaku supaya Oom Yanto lebih mudah menyentuh vaginaku.

“Ahhhhhh ….ahh…ahhhh…” Aku mendesah-desah saat tangan Oom Yanto dengan lincah bermain-main di dalam bibir vaginaku dan mempermainkan kelentitku.

“Addduuuuhhh …oucchhhhh ….” Aku menjerit kesakitan saat jarinya masuk masuk ke dalam pangkal lubang senggamaku yang memang belum pernah dimasuki benda asing.

Pada hari pertama mereka berhubungan badan, Mamaku mengalami lima kali orgasme dalam dua kali persetubuhan dari siang sampai sore, melakukan anal seks sebagai selingan dan melakukan oral seks di mobil sepanjang perjalanan pulang dengan menelan sperma Oom Yanto yang keluar tepat dipintu garasi rumahku. Aku jadi ingat kembali kejadian waktu itu saat menyambut kedatangan Mama yang setelah turun dari mobil Oom Yanto mulutnya terasa sedikit berbau amis saat menciumku yang mungkin berasal dari sperma yang ditelannya.

Petualangan seks Mama yang sangat hebat dalam satu hari membuatku terhanyut dalam gairah berahi mudaku yang memang sudah mulai mengenal kenikmatan seks. Sehingga dengan mudah Oom Yanto melucuti bajuku satu persatu hanya dengan memberikan rangsangan pada bagian tubuh yang tepat. Akhirnya menjelang bagian akhir cerita hubungan badan mereka di hari pertama, aku dan Oom Yanto sudah dalam keadaan telanjang bulat dengan tubuh Oom Yanto menindihku menciumi bibir, kuping dan leherku sambil menggesek-gesekkan penisnya pada vaginaku.

“Aduh Oom… Karin sudah mulai ga tahan ….” Maksudku adalah ingin mendapat lebih dari sekarang, tapi aku masih malu memintanya.

Oom Yanto malah memelorotkan badannya untuk menciumi, menghisap dan meremas-remas payudaraku yang membuat nafasku sesak seperti ada sesuatu yang akan meledak dari dalam. Setelah puas menciumi payudaraku, bibir Oom Yanto berpindah ke vaginaku. Kedua kakiku dinaikkannya ke bahunya sehingga pahaku seperti menjepit kepalanya. Dengan lahap dia menjilati vaginaku dengan lidahnya yang kasar, tidak ada satu bagian pun dari vaginaku yang luput dari sapuan lidahnya. Lalu dia mainkan kelentitku dengan lidahnya sebelum kemudian dihisap dan digigit-gigitnya yang membuat badanku jadi melenting-lenting nikmat.

“AAARRRRRRKKKKKHHHHHHHHH…..” Akhirnya aku mendapat orgasmeku yang pertama oleh seorang laki-laki karena ternyata aku tidak mendapat kenikmatan yang sama saat petting dengan pacarku.
Lidah Oom Yanto bukannya berhenti setelah tahu aku mendapat orgasme, tapi malah dilanjutkan dengan menjilati cairan yang keluar dari liang vaginaku. Lidahnya juga mulai melakukan “penetrasi” yang membuatku benar-benar tidak bisa lagi berpikiran sehat selain ingin dipuaskan kebutuhan berahiku.

“Oomm … setubuhi Karin seperti Mama…please … Karin udah ga tahan …” Racauku, rupanya daya tahan dan kontrolku saat itu sudah bobol sehingga aku melakukan persis seperti yang Mama lakukan; mengajak bersetubuh.

“Tapi kamu masih perawan Karin… Oom ga berani” Jawabnya dari arah selangkanganku.

“Oom ambil aja keperawanan Karin semau Oom…sekarang Karin hanya ingin bersetubuh” Balasku.

Oom Yanto kemudian bangun sambil mengangkangkan kakiku lebar-lebar dan langsung mengambil posisi tempur dengan memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku yang sudah membengkak kemerahan.

“Aduuhhhh …enak ooommm….enak sekali ooommm …” Aku merasakan campuran rasa sakit dan nikmat yang amat sangat saat kepala penisnya mulai memasuki liang vaginaku dengan berputar-putar perlahan.

BLESSSSSSSSSSSSSSSSS ………..

Oom Yanto akhirnya memasukkan seluruh penisnya ke dalam liang vaginaku dalam sekali genjotan keras.

“Addduuuuduuuuuhhhh …. Sakiiitttt….ouchhhh….sakittttt…..Ohhhhhhhh…pelan-pelan Oooommm”

Tidak ada komentar: